Di usia yang masih terbilang muda, Jack Ma menjelma jadi raja bisnis internet di China. Setelah delapan tahun mendirikan alibaba.com, situs ini jadi pesaing berat Google. Bahkan, di negara kelahirannya, alibaba sudah mengalahkan Yahoo!, dan situs belanja online eBay. Alhasil, tahun lalu, Ma menjadi orang terkaya ke-148 di China. Kekayaan bersihnya ditaksir mencapai US$ 650 juta atau sekitar Rp 6,11 triliun. Jumlah ini akan kian membengkak kalau alibaba berhasil ekspansi ke Eropa dan Asia dalam beberapa tahun ke depan.
Nama depannya, Jack, seperti nama pasaran orang Amerika, atau dunia Barat sana. Sedangkan nama belakangnya, Ma, juga tak menjelaskan latar belakang orang ini. Namun, orang mungkin akan langsung tahu bahwa pria ini berasal dari negeri China jika ia menyebut nama aslinya, yakni Ma Yun.
Tapi, tak usah terlalu memusingkan soal nama. Karena, orang sudah mengenal Jack Ma sebagai orang kaya baru di negeri China. Ia adalah pemilik perusahaan internet terbesar di China, Alibaba Group. Grup usaha ini memiliki situs elektronik komersial (e-commerce) alibaba.com, Taobao, mesin pencari Yahoo! China, situs pembayaran online Alipay, dan bisnis perangkat lunak Alisoft.
Situs internet terkemuka di dunia, Yahoo! sudah takluk dan harus bekerjasama dengan Alibaba agar bisa masuk China. Sedangkan raksasa e-commerce eBay sudah lebih dulu bertekuk lutut. Sekarang, Ma masih memiliki cita-cita ingin mengalahkan mesin pencari sejuta umat Google.
November tahun lalu, Ma baru saja meraup duit US$ 1,5 miliar dari penjualan 17% saham alibaba.com yang mulai melantai di bursa efek Hong Kong.
Nilai penjualan saham perdana ke publik atau initial public offering (IPO) perusahaan internet ini hanya kalah besar dengan aksi serupa yang dilakukan Google pada tahun 2004. Maklum, pendapatan alibaba.com tumbuh pesat dari US$ 49,42 juta pada tahun 2004 menjadi US$ 187,54 juta pada 2006. Padahal, pria berusia 43 tahun itu baru membuat alibaba.com delapan tahun silam.
Menariknya, semua itu berawal dari ketidaksengajaan. Ma lahir di Hangzhou, sebuah kota di Provinsi Zhejiang, China, pada November 1964. Sejak usia 12 tahun, matanya mulai terbuka melihat dunia di luar China. Saat itu, ada banyak turis berkunjung ke Hangzhou. Ia mengikuti langkah gurunya belajar Bahasa Inggris dari para turis tersebut. Otak dagangnya pun mulai terbentuk. Ma memberikan tur gratis kepada para turis dengan imbalan mereka mengajarinya Bahasa Inggris.
Tentu saja itu tak mudah. Ma perlu waktu sembilan tahun belajar bahasa itu. Meski sudah bisa bertutur dalam bahasa internasional itu, tata bahasanya masih sering kacau. Namun, ia tak patah semangat karena menyadari bahasa Inggris akan membantunya mengenal dunia luar. Ia juga bisa berkomunikasi dengan orang asing.
Ma mengaku, sebelum belajar Bahasa Inggris, ia hanya mendapatkan pengetahuan dari buku-buku China. “Namun setelah aku membaca buku-buku berbahasa Inggris, aku menemukan ternyata ada banyak perbedaan,” katanya, seperti dikutip cnn.com, pada April 2006.
Bahasa Inggris itulah yang membuat Ma berhasil menggondol gelar B.A. dari sekolah guru Hangzhou Teacher Institute pada 1988. Padahal, sebelumnya, ia pernah dua kali gagal dalam tes masuk ke institut tersebut. Selanjutnya, Ma menjadi dosen mata kuliah Bahasa Inggris dan Perdagangan di almamaternya. Meski begitu, ia tetap mendalami bahasa Inggris secara otodidak.
Ma baru mulai bersentuhan dengan dunia internet setelah berumur 31 tahun. Pasalnya, jaringan ajaib ini sangat lambat masuk ke China. Maklum, pemerintah di sana ingin menghadang arus globalisasi dan modernisasi yang dapat mengganggu stabilitas negara. Toh, Ma akhirnya mengenal internet saat berkunjung ke Los Angeles, Amerika Serikat (AS), pada 1995. Sebuah perusahaan China yang bermitra dengan perusahaan AS mengundangnya sebagai tenaga penerjemah. Saat itu, Ma juga bekerja paruh waktu dengan membuka usaha biro terjemahan.
Di tahun yang sama, Ma mengunjungi temannya di Seattle, AS. Nah, pada saat itu, untuk pertama kalinya, ia menyentuh papan ketik komputer dan mengenal internet. Awalnya, ia takut menyentuh komputer karena menganggapnya sebagai benda asing. Ma mengaku komputer pertama yang disentuhnya bermerek Apple dan kata pertama yang diketiknya di Yahoo! adalah beer.
Setelah bosan bermain dengan mesin pencari Yahoo!, Ma tertarik membuat situs sendiri memperkenalkan
biro terjemahannya. Dia berhasil membuat sebuah situs yang sangat sederhana. Toh, hanya dalam hitungan jam setelah situs itu jadi, sudah ada lima surat elektronik yang masuk untuk memberikan tanggapan.
Pengalaman ini menjadi pendorong utama Ma untuk membuat situs sendiri yang dapat menghasilkan uang. Bermodalkan duit pinjaman dari orang tua dan adik iparnya sebesar US$ 2.000 ia membuat situs China Pages. Situs ini berisi daftar perusahaan-perusahaan China dan menjadi media promosi ke luar negeri. Ma mengklaim, China Pages situs internet pertama di China. 
Setelah itu, dia kian ekspansif. Ma menawarkan kerjasama dengan China Telecom untuk mengembangkan
China Pages. Bentuknya adalah perusahaan patungan. Meski tidak terlalu sukses, bisnis internet pertamanya ini mengantarkan Ma bekerja di Departemen Perdagangan pada tahun 1997. Tugasnya adalah mempromosikan perusahaan China melalui internet.
Namun, pekerjaan itu tak berjalan mulus. Akhirnya, Ma bersama 18 teman-temannya mendirikan sebuah situs bernama alibaba.com pada Maret 1999. Modal awalnya US$ 60.000. Sesungguhnya, Ma menemukan
kata “alibaba” itu saat duduk di sebuah kedai kopi di San Francisco, AS. Ia berpikir, semua orang di berbagai belahan dunia manapun mengetahui kisah Alibaba. Selain itu, ia adalah tipe pebisnis pandai yang ramah dan suka membantu orang desa, seperti Alibaba. “Nama itu juga sangat mudah diucapkan dan semua orang tahu,” kata Ma.
Tapi, perjalan alibaba.com tak seindah kisah dari Negara Irak tersebut. Pada awalnya, Ma mengakui
sangat sulit meyakinkan teman-temannya untuk berpatungan dan memulai bisnis baru itu. Setelah berjalan, perhitungannya pun sempat meleset. Modal awal ludes dalam waktu enam bulan atau lebih cepat dari rencana semula.
Beruntung, menginjak bulan ketujuh, pelanggan Alibaba datang mengalir. Berbagai perusahaan asal China berbondong-bondong memajang produknya di situs tersebut. Maklum, mereka tidak dipungut biaya. Alibaba baru memperoleh fee jika ada barang yang terjual melalui situs itu. Alhasil, dalam beberapa tahun, Alibaba mampu menggaet 100.000 produsen dan memiliki satu juta pelanggan yang mendaftarkan diri di situs itu.
Pada 2003, Alibaba meluncurkan taobao.com, situs yang juga memajang berbagai produk. Bedanya, kalau alibaba.com lebih bersifat transaksi antar perusahaan atau bussiness to bussiness (B2B), taobao.com menjembatani transaksi antar konsumen atau consumer to consumer (C2C). Taobao langsung jadi saingan berat eBay, situs jualan ritel yang sudah lebih dulu eksis. Pangsa pasar Taobao mencapai 72% dan Alibaba sebanyak 86%.
Namun, Ma tak puas. Ia menginginkan memiliki mesin pencari di Alibaba. Ia lalu mengamati dua mesin pencari nomor wahid di dunia, Google dan Yahoo!. Akhirnya, ia memilih Yahoo! lantaran memiliki teknologi terbaik. Ma melihat peluang kerjasama karena Yahoo! tidak bisa menempatkan teknologinya
dengan baik di China. Ia menawarkan kerjasama operasional di China. Bentuknya, Yahoo! mesti menanamkan duitnya US$ 1 miliar di Alibaba. Sebagai gantinya, Ma merelakan 40% sahamnya untuk Yahoo!. Sinergi ini menguntungkan kedua pihak. Yahoo! bisa masuk China, sedangkan Alibaba dapat ekspansi ke luar negeri dan, sekarang, ia mulai menantang Google.
Perjalanan karier Jack Ma membangun Alibaba boleh dibilang jadi fenomena tersendiri. Pasalnya, dari seorang guru Bahasa Inggris dia mampu menyulap situs internet yang bermodal US$ 60.000 itu menguasai jaringan bisnis internet komersial di China dalam waktu hanya delapan tahun. Bahkan, dia berhasil mengundang Yahoo! masuk ke negara itu.
Padahal, selama ini pemerintah China sangat overprotective terhadap teknologi internet yang jadi hulubalang
gelombang arus modernisasi dan globalisasi. Maklum, mereka khawatir internet jadi media propaganda dunia luar untuk mengganggu stabilitas China. Contohnya adalah seputar kontroversi sensor atas isi situs Google beberapa waktu lalu.
Namun, Ma mampu mengatasi masalah tersebut. Dalam menjalankan alibaba.com dia tidak pernah takut kena sensor dari pemerintah. Sebab, situsnya hanya fokus pada bisnis e-commerce dan hanya situs bisnis belaka. Alhasil, hingga kini Ma tidak pernah sekalipun mendapat gangguan dari pemerintah negara komunis tersebut. Dia bilang, Alibaba hanya membantu perusahan kecil dan menengah, serta menciptakan lapangan pekerjaan baru. “Alibaba.com menjadi anak baik,” katanya.
Selain itu, Ma punya dua prinsip dalam menjalankan bisnis internet di China. Pertama, dia berprinsip berbisnis di negara manapun harus mentaati aturan yang berlaku, lantaran tidak bisa mengganti atau membuat aturan baru. Kedua, dia menerapkan prosedur ketat bahwa setiap informasi yang masuk atau keluar di alibaba.com harus melewati proses penyaringan.
Ma berharap prinsip-prinsip itu membuat Alibaba tumbuh. Dia ingin alibaba.com memuat daftar 10 juta perusahaan skala menengah dan kecil. Sedangkan taobao.com mampu menciptakan satu juta lapangan kerja di China dalam satu menit penayangan informasi di situsnya.
Di sisi lain, majalah internasional, Forbes, pernah mendapuk Ma sebagai orang terkaya ke-27 di China. Namun, dia menyangkal informasi itu. Sembari bercanda, dia bilang Forbes harus memberikan bukti akurat, dan kalau salah media itu harus memberikan ganti rugi. Ma juga berkelakar bahwa dia tidak berniat menjual Alibaba lantaran harganya terlalu mahal.
Toh, Ma bukanlah orang yang selalu serius. Dia juga tidak gila kerja. Sesekali dia mengundang teman-temannya ke apartemen untuk bermain kartu. Maklum, hingga kini dia masih tinggal di apartemen berlantai dua. Meski telah jadi raja internet, Ma tidak melupakan dunia pendidikan dan perlindungan lingkungan hidup. Karena pernah menjadi guru selama enam tahun, dia memplesetkan jabatan CEO-nya sekarang menjadi Chief Education Officer.
Selain itu, dia tertarik pada buku dan sastra. Ma jadi pengagum novelis Jin Yong, karena menganggap punya pengaruh besar terhadap kehidupan pemuda China. Karya Yong bercerita tentang perjalanan seorang pemuda mempelajari seni bela diri kungfu. Buku itu mengulas betapa menjadi pemain kungfu kelas satu itu harus giat berlatih, menderita, menjadi orang baik, dan memiliki semangat pantang menyerah.
Falsafah yang panjang-lebar dalam buku itu menjadi pegangan Ma. Setiap jenuh bekerja dia selalu membaca ulang buku itu. Sebab, bisa membuatnya kembali bisa berpikir, bahkan tertawa. Buku karya Yong ini juga memberikan inspirasi saat Taobao berkompetisi ketat dengan eBay. Ma mengaku menggunakan filosofi kungfu untuk memenangkan persaingan tersebut. “Ini bukanlah hal yang bisa dipelajari di sekolah bisnis Harvad,” katanya.
Sekarang, pada usia 43 tahun Ma berada di puncak kesuksesan. Meski begitu, dia tak ingin putranya menjadi bos Alibaba Group. Selain itu, dia tidak ingin berperan terlalu lama dan siap menyerahkan tongkat estafet ke eksekutif lain di Alibaba. Namun, sebelum mundur dan kembali menjadi guru, Ma ingin menjadikan Alibaba perusahaan internet nomor wahid di dunia.
Sumber : harian Kontan , 9-12 januari 2008 – Kurnia Arofah




December 2nd, 2008 at 10:27 am
Great Story… patut di tiru perjuangan dan motivasi Mr Ma Yun ini..
btw, webnya keren mas.. tapi ngga bisa ninggalin komen yaa..?!